Jembatan yang
Memerdekakan

Toni Ruttimann percaya bahwa cinta itu membebaskan, serupa jembatan bagi mereka yang terasingkan. Rasa cinta itu pula yang membuatnya mampu menyerahkan sesuatu yang paling berharga untuk orang lain. Hampir separuh masa hidupnya dia dedikasikan untuk orang-orang yang luput dari geliat pembangunan.


Membangun Asa 
di Jembatan Pagar Alam

Masa panen baru saja usai. Warga Desa Pagar Alam tidak lagi disibukkan dengan kegiatan menggarap sawah. Pagi-pagi benar, beberapa orang laki-laki terlihat duduk-duduk di depan rumah Isharman, sang Kepala Desa Pagar Alam. Mereka berbincang dalam bahasa daerah Pagar Alam, Sumatera Selatan. Sesekali mereka tertawa sambil menikmati rokok.

Listi, istri Isharman, dengan ramah menyediakan satu termos berisi kopi hitam dan sepiring jajanan pasar untuk beberapa tamunya itu. Dalam sekejap, wangi aroma kopi mulai berbaur dengan bau asap rokok di udara. Saya pun ikut bergabung, mencoba memahami arah pembicaraan mereka.

Tidak lama kemudian, Isharman keluar dari rumah, menuang kopi, dan duduk bersama-sama.

Hari itu, warga desa akan melakukan kerja bakti membangun sebuah jembatan yang akan menyeberangi salah satu anak Sungai Lematang dengan lebar kira-kira 40 meter.

"Rencananya, kami akan membangun jembatan sepanjang 42 meter, terbuat dari baja kokoh," ujar Isharman, Kamis (6/10/2016).

Jembatan menjadi satu bagian penting dalam kehidupan masyarakat Pagar Alam dan beberapa desa di sekitarnya. Selain menjadi penghubung antara desa satu dan yang lainnya, jembatan menjadi andalan warga desa untuk menunjang mata pencaharian mereka sebagai petani.

Sebenarnya, Desa Pagar Alam sudah mempunyai jembatan gantung. Namun, kondisinya tidak layak lagi untuk digunakan. Lantainya terbuat dari susunan kayu dan bambu yang dipasang berjajar, disambung dengan menggunakan paku. Kawat baja sebagai penopang lantai jembatan sudah banyak yang berkarat.

Terlihat di beberapa bagian banyak kayu yang sudah mulai lapuk karena diterpa panas dan hujan, bahkan di beberapa bagian ada yang terlepas. Setiap orang yang melintas harus berhati-hati untuk menghindari bagian yang berlubang. 

Menurut Isharman, jembatan itu dibuat pada tahun 2000 atas prakarsa kepala desa sebelumnya dengan bantuan dari Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Lahat. Selain sudah tidak layak, jembatan itu juga dinilai tidak efisien. 

Satu tahun sekali jembatan harus diperbaiki untuk mengganti lantai kayu yang mudah lapuk akibat diterpa cuaca panas dan hujan. Dana yang dihabiskan, kata Isharman, mencapai Rp 8 juta. 

"Pemasukan desa tidak ada, jadi kami mufakat, menerima tawaran bantuan untuk membuat jembatan baru dari besi dan baja," katanya. 

Kompas.com/Kristian Erdianto
Kepala Desa Pagar Alam Isharman (memakai kaus putih) dan Suntana (memakai kaus abu-abu) sedang memeriksa lubang yang sudah disiapkan untuk memasang besi pemancang jembatan.

Sekitar awal tahun 2016, Isharman bertemu dengan Suntana. Saat itu, Suntana sedang menyurvei beberapa daerah di Sumatera Selatan untuk dibangun jembatan. Desa Pagar Alam adalah salah satu desa yang didatangi oleh Suntana.

Suntana merupakan salah satu staf Toni Ruttimann, seorang warga negara Swiss yang menginisiasi proyek sosial pembangunan jembatan untuk daerah terpencil. Sejak 2012, Toni dan Suntana sudah menjalankan proyek sosialnya di beberapa daerah. 

Tercatat, hingga September 2016, sebanyak 61 jembatan sudah berhasil mereka bangun di 15 provinsi, yakni Bali, Banten, Gorontalo, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Maluku, Maluku Utara, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, dan Sumatera Selatan. 

Saat bertemu Isharman, Suntana menyatakan kesediaannya membantu warga Desa Pagar Alam untuk membangun jembatan dengan beberapa syarat sederhana. 

Warga desa harus berkomitmen untuk membangun jembatannya secara swadaya dan bergotong royong. Suntana juga meminta warga menyediakan material pendukung, seperti pasir, batu kerikil, dan semen.

"Saya bertemu dengan Pak Suntana awal 2016. Dia bilang mau membantu. Syaratnya, kami siap untuk gotong royong. Saya menyanggupinya. Pak Suntana berjanji memberikan material utama untuk membangun jembatan, seperti pipa besi, kawat baja, dan tiang jembatan. Dia juga yang mengajari kami membuat jembatan," kata Isharman. 

Syarat yang sama selalu ditawarkan ke masyarakat yang akan dibantu membuat jembatan. Komitmen dan keinginan yang kuat untuk berusaha secara mandiri menjadi modal penting dalam membangun jembatan. 

Menurut Suntana, komitmen harus lebih dulu ada agar masyarakat sadar bahwa mereka harus berusaha secara mandiri jika menginginkan sebuah perubahan. 

"Kenapa dibutuhkan komitmen masyarakat? Karena saya tidak mau hanya menjadi mandor. Masyarakat harus sadar bahwa mereka perlu berusaha untuk membangun jembatan untuk diri mereka sendiri," tutur Suntana.

Kira-kira pukul 08.00 WIB, puluhan warga yang umumnya laki-laki paruh baya mulai melakukan persiapan untuk memulai pekerjaan di bawah arahan sang Kepala Desa. Sementara itu, kaum ibu sibuk menyiapkan makanan dan minuman untuk para pekerja.

Pada hari pertama, mereka memasang besi pemancang jembatan di kedua tepi sungai. Setelah itu, pemancang besi dicor ke dalam lubang yang sudah disiapkan sebelumnya. Semua proses pengerjaan dilakukan sesuai dengan instruksi Suntana. 

Kompas.com/Kristian Erdianto
Sekitar 40 orang warga desa mengangkut tiang besi pemancang jembatan berbobot 800 kilogram. Jalan menuju tepi sungai tidak memungkinkan untuk dilalui truk pengangkut. Selain sempit, permukaannya pun tidak rata. Mau tidak mau, warga harus menggotongnya sejauh 100 meter.

Setelah air dalam lubang dikuras, tiang pemancang pun siap untuk dicor. Ada dua tiang utama yang digunakan untuk membangun jembatan. Masing-masing tiang berbobot 800 kilogram. 

Suntana meminta sekitar 40 orang untuk mengangkut kedua tiang tersebut. Jalan menuju tepi sungai memang tidak memungkinkan untuk dilalui truk pengangkut. Selain sempit, permukaannya pun tidak rata. Mau tidak mau, warga harus menggotongnya sejauh 100 meter.

"Bapak-bapak pasti bisa. Tiang ini beratnya 800 kilogram, berarti rata-rata satu orang memikul berat 20 kilogram. Di tempat lain juga seperti itu, bahkan ada yang medannya lebih parah," ujar Suntana kepada warga desa. Dengan bersusah payah, akhirnya warga berhasil mengangkut kedua tiang itu. 

Proses pengecoran berlangsung hingga dua hari. Suntana mengatakan, dalam setiap pengerjaan, dia dan Toni selalu berpatokan pada efektivitas dan efisiensi. Warga desa dituntut untuk bekerja sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan sehingga tidak banyak waktu yang terbuang percuma.

Kompas.com/Kristian Erdianto
Warga desa memasang tiang besi pemancang jembatan untuk kemudian dicor dengan semen.

Suntana menuturkan tiga hal utama yang selalu dia kedepankan dalam sistem kerjanya. Pertama, terkait kecepatan, karena warga desa yang membangun jembatan itu bekerja tanpa bayaran. Mereka tentu memiliki pekerjaan harian yang harus dilakukan. 

Kedua, soal kualitas. Setiap tahap pengerjaan jembatan bangunan tidak lepas dari pengawasan Suntana. Meski dilakukan secara sukarela, kualitas jembatan tetap harus diutamakan.

"Kualitas tetap diutamakan karena menyangkut keselamatan dan kredibilitas kami sebagai pembangun jembatan. Saya tidak ingin ada berita yang mengatakan jembatan yang kami buat roboh dan menewaskan banyak orang," ujarnya.

Ketiga, Suntana selalu menekankan kepada warga desa agar bekerja sesuai dengan apa yang dia perintahkan. Hal itu untuk meminimalisasi kecelakaan kerja saat membuat jembatan. Faktor keselamatan sangat diperhatikan oleh Suntana.

Hari kedua masih diisi dengan kegiatan pengecoran tiang pemancang jembatan. Jumlah para pekerja semakin bertambah. Kabar pembangunan jembatan di Desa Pagar Alam sudah tersebar ke desa-desa sekitar. Puluhan orang dari desa seberang datang untuk ikut bergotong royong. 

Kompas.com/Kristian Erdianto
Proses pengecoran tiang besi pemancang jembatan.

Bantuan tenaga tidak hanya datang dari warga sekitar. Sekitar 40 siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Pagar Alam ikut membantu. Mereka adalah anggota Pramuka binaan Muhammad Dawan (33 tahun), salah seorang pengajar di sekolah tersebut.

Mereka membentuk rantai manusia untuk mengangkut bahan material ke lokasi pembangunan. Dawan ikut berdiri di tengah para siswanya, mengangkut ember yang berisi adukan semen, batu kerikil, dan pasir. Mereka bekerja tanpa beban, kadang diselingi dengan canda tawa. 

Dawan berinisiatif mengumpulkan siswa-siswi SMA begitu mendengar pembangunan jembatan di Desa Pagar Alam. Inisiatif tersebut, kata Dawan, muncul dari perasaan ingin saling membantu karena para siswa ikut merasakan manfaat dari jembatan itu.

"Jembatan di desa itu merupakan sarana yang diandalkan anak-anak untuk berangkat sekolah dari desa seberang," kata Dawan.

Dawan menuturkan, warga di Desa Pagar Alam dan seluruh desa di Kecamatan Pagar Gunung memiliki rasa gotong royong yang sangat tinggi. Semua fasilitas yang menyangkut kepentingan umum didirikan secara bersama-sama. 

Dengan demikian, seluruh masyarakat memiliki rasa saling memiliki yang kuat dalam menjaga fasilitas tersebut. Sementara itu, untuk membangun jembatan di Desa Pagar Alam, warga dari desa lain pun ikut menyumbang, entah berupa dana ataupun tenaga. 

"Di Pagar Alam ini masyarakat masih mengandalkan sistem kerja gotong royong jika ada program pembangunan di desa. Sering ada kerja bakti di sini," tuturnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Isharman. Menurut dia, dalam rapat desa yang diadakan sebelum pembangunan jembatan, semua kepala keluarga di Desa Pagar Alam, sebanyak 87 orang, sepakat untuk bergotong royong. 

Bahkan, kades-kades dari desa seberang sanggup untuk menyumbang dana dan sejumlah material bangunan. "Kalau semangat kegotongroyongan masyarakat yang ada di Pagar Alam ini sangat luar biasa. Beberapa kepala desa sepakat untuk menyumbang tenaga dan dana untuk pembangunan jembatan itu," ujar Isharman. 

"Alhamdulillah masyarakat senang, setiap kepala keluarga (KK) turut serta gotong royong. Di Desa Pagar Alam ini ada 87 KK. Bahkan, desa tetangga ikut juga dalam pengecoran," katanya. 

Kompas.com/Kristian Erdianto
Puluhan siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Pagar Alam ikut membantu warga desa Pagar Alam membangun jembatan.

Jembatan di Desa Pagar Alam memiliki peran penting dalam menunjang beberapa aspek kehidupan sehari-hari masyarakat. Selain berperan dalam aspek perekonomian, jembatan itu juga berpengaruh pada aspek sosial budaya, pendidikan, dan kesehatan. 

Dilihat dari aspek ekonomi, sebagian besar masyarakat Desa Pagar Alam dan beberapa desa sekitar bermata pencaharian sebagai petani. Mereka hidup dari hasil pertanian dan perkebunan, seperti padi, kopi, dan karet. 

Setiap hari mereka menggunakan jembatan untuk pergi ke sawah yang terletak di seberang desa. Untuk mengangkut hasil bumi, mereka menggunakan sepeda motor dengan melewati jalur yang sama. 

Jika sewaktu-waktu jembatan itu rusak, warga terpaksa harus menggunakan jalur lain yang jaraknya lebih jauh. Selisih waktunya mencapai 30 menit. Sementara itu, jika melalui jembatan, warga hanya perlu waktu 5 menit dari Desa Pagar Alam menuju area persawahan.

Selain menunjang kegiatan perekonomian, jembatan itu juga berperan dalam menjaga aspek sosial budaya masyarakat. Bagi masyarakat desa, menjaga tali silaturahim menjadi sangat penting untuk menjaga kerukunan. Kebiasaan saling mengunjungi telah mereka pertahankan secara turun-temurun. Dengan demikian, jika jembatan penghubung tersebut rusak, itu akan berdampak juga pada adat istiadat masyarakat desa. 

Isharman mengungkapkan, Jembatan Pagar Alam sering digunakan sebagai jalan pintas bagi penduduk untuk menuju dari satu desa ke desa yang lain. Masyarakat masih menjalankan kebiasaan bersilaturahim antardesa, terutama pada hari-hari besar keagamaan.    

Jembatan Pagar Alam menghubungkan 10 desa yang terbagi dalam dua wilayah. Di wilayah utara, terdapat lima desa, yakni Desa Batu Rusa, Karang Agung, Kupang, Sawah Darat, dan Danau. Sementara itu, di wilayah selatan, terdapat Desa Pagar Alam, Rimba Sujud, Padang, Garmidar Ilir, dan Pagar Agung. Satu desa rata-rata dihuni oleh 200 orang dan setiap hari mereka selalu menggunakan Jembatan Pagar Alam.

Setiap sebulan sekali masyarakat mengadakan acara pengajian atau sekadar arisan. Setelah pengajian, masyarakat menggelar ritual syukuran berupa acara makan bersama sebagai ucapan rasa syukur kepada Tuhan.   

Syukuran juga kerap diadakan saat mendekati akhir musim panen. Masing-masing desa akan mengadakan syukuran dengan mengundang masyarakat dari desa lain.

"Sebulan sekali sering ada kumpul masyarakat antar-desa, entah itu untuk pengajian atau arisan, apalagi kalau musim panen padi dan kopi. Jika ada perjanjian masa pengajian, misalnya selama enam bulan, setelah itu pada hari terakhir pengajian, masyarakat mengadakan syukuran dengan mengundang masyarakat dari desa seberang," ungkapnya.

Jembatan Pagar Alam juga memiliki peran dalam kegiatan pendidikan di Kecamatan Pagar Gunung. Selama belasan tahun mengajar, Muhammad Dawan sering menjumpai siswanya tidak masuk sekolah karena jembatan kayu di Pagar Alam rusak berat yang disebabkan hujan atau dihantam luapan air sungai. 

Sebagian besar anak yang tinggal di desa bagian utara bersekolah di SMP dan SMA 1 Pagar Gunung yang terletak di bagian selatan, dekat Desa Pagar Alam dan Rimba Sujud.

Mereka adalah penduduk Desa Batu Rusa, Kupang, Sawah Darat, dan Desa Danau. Mereka yang tidak memiliki kendaraan bermotor memilih berjalan kaki atau naik sepeda melalui Jembatan Pagar Alam saat berangkat ke sekolah. 

Jika jembatan sudah tidak bisa digunakan, anak-anak harus melalui jalan memutar yang lebih jauh atau terpaksa menyeberangi sungai saat arus sedang tidak deras. Sebelum menyeberangi sungai, anak-anak harus melewati area persawahan. Mereka melepas sepatu agar tidak terkena lumpur, kemudian menjinjingnya, sambil berharap arus sungai tidak berubah deras seketika. 

"Harapan saya, dengan adanya jembatan besi, anak-anak kembali antusias untuk berangkat sekolah. Sehingga, tidak ada lagi siswa yang tidak bisa berangkat ke sekolah karena jembatannya rusak," ucap Dawan.

Kompas.com/Kristian Erdianto
Sebagian besar anak yang tinggal di desa bagian utara bersekolah di SMP dan SMA 1 Pagar Gunung yang terletak di bagian selatan, dekat Desa Pagar Alam dan Rimba Sujud. Mereka yang tidak memiliki kendaraan bermotor memilih berjalan kaki atau naik sepeda melalui Jembatan Pagar Alam saat berangkat ke sekolah.

Selain memudahkan anak-anak berangkat ke sekolah, Jembatan Pagar Alam juga berperan penting dalam pekerjaan Sulas (50) sehari-hari. Sulas adalah seorang tenaga kesehatan yang bertugas di Pondok Bersalin Desa (Polindes) di Desa Rimba Sujud. Sejak tahun 1995, dia harus melayani masyarakat di 20 desa yang ada di Kecamatan Pulau Pinang dan Kecamatan Pagar Gunung.

Untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada ibu-ibu hamil, Sulas harus melalui Jembatan Pagar Alam menuju Desa Kupang, Sawah Darat, dan Danau. Minimnya tenaga kesehatan membuat Sulas harus melayani persalinan beberapa desa di sekitar Desa Rimba Sujud. 

Menurut Sulas, ketika dia tidak bisa mendatangi langsung pasiennya, mereka biasanya mendatangi Polindes tempat dia bekerja. Kadang mereka harus mengurungkan niat ketika jembatan sedang rusak.

"Tahun 1995 saya bertugas, jembatannya masih kayu. Kondisinya sudah buruk, jelek, jadi sangat penting untuk dibangun jembatan yang baru supaya kami bisa menjalankan tugas dengan maksimal. Banyak juga masyarakat yang menggunakan jembatan untuk mengakses Polindes yang ada di Desa Rimba Sujud. Kami butuh jembatan yang lebih baik agar masyarakat bisa lebih cepat mendapatkan akses kesehatan," ujar Sulas.

Menyalakan api dalam hati

Kompas.com/Kristian Erdianto

Pembangunan jembatan di Desa Pagar Alam tidak lepas dari peran seorang warga negara Swiss bernama Toni Ruttimann. Dia bukanlah seorang aktivis sebuah lembaga swadaya masyarakat internasional atau filantropis yang menyisihkan sebagian kekayaannya untuk membantu masyarakat miskin. 

Toni tidak pernah bercita-cita menjadi seorang arsitek terkenal, yang namanya dibicarakan banyak orang karena berhasil membangun puluhan jembatan megah. Keinginan Toni sederhana, dia ingin hidupnya berguna untuk orang lain, memberikan apa yang bisa dia berikan kepada sesamanya. 

Semua orang bisa melakukan apa yang dicita-citakan Toni, tetapi tidak setiap orang mampu menjalaninya.

Kisah hidup Toni berawal pada tahun 1987. Saat itu dia baru saja lulus dari sekolah menengah atas di Swiss. Suatu hari dia menyaksikan siaran berita di televisi mengenai bencana gempa di Ekuador. 

Tayangan di televisi menampilkan keadaan sebuah desa yang hancur lebur terkena dampak gempa bumi. Tanah longsor menghancurkan rumah-rumah penduduk dan infrastruktur publik, seperti jalan dan jembatan. 

Berita itu membuat hati Toni tergerak. Dia ingin datang ke Ekuador dan membantu masyarakat di sana yang sedang kesusahan. Niat itu dia sampaikan kepada ayahnya. Ayahnya heran dan bertanya mengenai apa yang akan dia lakukan di Ekuador. "Tidak ada sanak saudara atau kenalan keluarga yang tinggal di sana dan sekarang kamu memutuskan untuk menjadi relawan di area bencana gempa bumi?" tanya sang ayah.

Toni hanya menjawab singkat, "Saya akan tetap pergi."

Beberapa hari kemudian Toni pergi seorang diri ke Ekuador. Dia mengumpulkan biaya perjalanan dari uang tabungan dan sumbangan beberapa orang kerabatnya di Swiss. 

Kompas.com/Kristian Erdianto

Sesampainya di Ekuador, Toni tinggal di sebuah desa yang terletak di daerah pegunungan. Di situ dia melihat secara langsung bagaimana kehidupan sebuah desa lumpuh karena hancurnya infrastruktur. Gempa disertai tanah longsor melenyapkan jembatan dan jalan yang menghubungkan desa dengan daerah luar. 

"Itulah saat pertama kalinya dalam hidup saya melihat dan memahami bagaimana rasanya ketika kita tidak memiliki jembatan. Di Jakarta, kamu tidak akan pernah berpikir tentang jembatan, kamu tidak akan menganggap itu permasalahan penting, bukan? Kamu dapat bepergian kapan saja kamu mau, tetapi ada orang-orang yang kesulitan dan putus asa. Saya melihat perempuan menangis sambil menggendong anaknya yang tidak dapat menyeberang karena tidak ada jembatan," ujar Toni.

Hari demi hari dia habiskan untuk membantu masyarakat lokal membangun kembali desanya. Dia juga ikut membantu proses pembangunan jembatan oleh sejumlah tenaga ahli. 

Dia banyak belajar bagaimana teknik membuat jembatan dengan memperhatikan, bertanya, dan mendengarkan para ahli di Ekuador. Lama-kelamaan Toni mulai tertarik menjadi seorang ahli pembangun jembatan. Sejak saat itu, dia memutuskan untuk menjadi seorang bridge-builder.

"Jembatan demi jembatan, saya belajar perlahan bagaimana melakukannya dan apa yang harus saya lakukan, seperti mencari material untuk membangunnya serta koneksi dari orang-orang yang dapat membantu saya. Itulah yang saya kerjakan sampai saat ini, selama 29 tahun," ungkap Toni.

Setelah enam bulan berada di Ekuador, Toni memutuskan untuk kembali ke Swiss. Dia mendaftar kuliah teknik sipil di salah satu universitas di Zurich, berharap bisa mendapatkan pengetahuan yang lebih banyak soal membangun jembatan.

Kembali ke kota asalnya ternyata tidak membuat Toni betah. Segala kenyamanan yang bisa dia dapatkan dengan mudah justru membuat Toni menjadi gundah. Dia takut rasa nyaman akan membuatnya enggan untuk kembali ke Ekuador dan menolong orang-orang yang membutuhkan bantuan.

Toni menghadapi dilema. Hampir setiap malam dia memikirkan pilihan-pilihan hidup yang ada di dalam kepalanya. Menjalani hidup sebagai seorang bridge-builder seperti saat di Ekuador atau mengambil pilihan orang kebanyakan. Lulus kuliah, mendapat pekerjaan, kemudian berkeluarga. 

Selama berminggu-minggu pikirannya berkecamuk. Dia mencoba mencari jawaban dari tulisan-tulisan filsuf ternama, seperti Lao Tze dan Phytagoras. Dia juga membaca kitab-kitab suci agama, dari Injil hingga Bhagavad Gita. Sebuah buku berjudul Siddharta karya Herman Hesse membantunya menetapkan pilihan sebagai bridge-builder.  

Semua bacaan itu membawa Toni pada sebuah keyakinan. "Jangan cemaskan dirimu sendiri, tolonglah orang lain, dan segala yang kamu butuhkan akan tercukupi."

"Jangan cemaskan dirimu sendiri, tolonglah orang lain, dan segala yang kamu butuhkan akan tercukupi."
Toni Ruttimann

Toni juga mengaku terinspirasi oleh sosok musisi Jhonny Cash. Menurut dia, Jhonny Cash banyak berbicara tentang spiritualitas kehidupan manusia. Lagu yang berjudul “The Burden of Freedom” meyakinkan Toni untuk kembali ke Ekuador.

"Lagu itu yang saya dengarkan selama tujuh minggu di Zurich. Ketika saya tidak tahu jalan mana yang harus saya ambil, lagu itulah yang meyakinkan saya untuk memilih jalan ini,” ungkap Toni.

“Lord, help me to shoulder the burden of freedom. And give me the courage to be what I can…”

Setelah delapan minggu berada di Swiss, akhirnya Toni memutuskan untuk menghentikan studinya dan kembali ke Ekuador.

"Saya takut kehilangan 'api' yang saya rasakan dalam hati. Tetapi, di sisi lain, saya mengalami dilema. Saya juga berpikir harus mendapatkan pendidikan, pekerjaan, kehidupan untuk memulai sebuah keluarga, dan apa pun itu yang saya butuhkan untuk hidup di dunia modern ini," tutur Toni.

"Pada akhirnya, saya berkata, sudahlah, saya masih merasakan 'api' itu dan mari kita lihat apakah yang dikatakan orang bijak itu benar. Apakah saya bisa hidup seperti itu? Dapatkah kita memberikan hidup kita kepada orang lain dan tidak perlu cemas pada diri kita sendiri? Jadi saya berhenti dari universitas dan kembali ke Ekuador," tambahnya.

Kompas.com/Kristian Erdianto
Warga desa mengumpulkan batu untuk proses pengecoran tiang besi pemancang jembatan.

Di Ekuador, Toni kembali meneruskan misinya, membangun jembatan di beberapa desa. Tercatat pada tahun 1998, Toni telah membangun 99 jembatan di Ekuador. 

Dari Ekuador, Toni juga merambah ke negara-negara Amerika Tengah, seperti Honduras, Kosta Rika, dan Nikaragua. Sekitar tahun 2001, Toni memulai kerja sosialnya di Kamboja, kemudian menjejakkan kaki di Vietnam, Laos, Myanmar, dan Indonesia. Sampai dengan September 2016, Toni berhasil menyelesaikan 742 jembatan di empat negara Asia Tenggara itu. 

Pada Oktober 2010, Toni memulai proyek sosialnya di Indonesia. Seorang pemimpin perusahaan Tenaris, Paulo Rocha, mengatakan kepada Toni bahwa Tenaris sedang menjalin kerja sama dengan salah satu perusahaan Indonesia. Dengan begitu, Toni bisa memanfaatkan pipa besi untuk membangun jembatan di Indonesia tanpa harus mengimpor dari Argentina. 

Di samping itu, Toni juga mendengar kabar bahwa ada banyak daerah terpencil di Indonesia yang membutuhkan jembatan. Tanpa berpikir panjang, Toni memanfaatkan kesempatan itu.

Sesampainya di Indonesia, Toni bertemu dengan Suntana yang sekarang menjadi asistennya dan Imam Prasodjo, seorang sosiolog yang juga memiliki passion di bidang kemanusiaan. Imam banyak membantu Toni terkait urusan administrasi pemerintahan, mulai dari mengurus izin impor material hingga mengenalkan Toni ke berbagai instansi pemerintah daerah. 

"Merantau. Itu yang saya lakukan, saya merantau untuk melayani orang-orang yang membutuhkan, bukan untuk diri saya sendiri. Jika saya merantau untuk diri saya sendiri, itu akan terlalu mudah. Tetapi, hal yang saya lakukan ini lebih memiliki makna bagi diri saya sendiri," ujar pria kelahiran 21 Agustus 1967 itu. 

"Saya merantau untuk melayani orang-orang yang membutuhkan, bukan untuk diri saya sendiri."
Toni Ruttimann

Daerah terpencil dan sulit diakses di setiap negara menjadi sasaran Toni. Dia bepergian dari satu desa ke desa lain untuk melihat apakah masyarakat di sana membutuhkan sebuah jembatan. Terkadang Toni mendapatkan informasi dari media massa. 

Sebisa mungkin Toni tidak menginap di hotel atau penginapan ketika tiba di suatu negara. Dia memilih tinggal di rumah penduduk lokal sampai pembangunan jembatan selesai. 

Sebelum memulai pengerjaan, Toni membentuk tim kecil yang terdiri dari beberapa tukang las dan memilih satu orang sebagai asistennya. Asisten itu yang akan membantu Toni untuk memastikan apakah pembangunan jembatan di suatu daerah bisa dilakukan.

Konsep yang diterapkan oleh Toni selalu sama di setiap daerah. Ketika mengunjungi satu desa, Toni bersama asistennya akan memastikan lebih dulu apakah masyarakat memiliki keinginan yang kuat untuk membangun jembatan secara gotong royong.  

Jika masyarakat sudah berkomitmen untuk bekerja secara mandiri, Toni akan meminta mereka menyediakan bahan material pendukung, seperti batu, kerikil, dan pasir. Sementara material utama, seperti pipa dan pelat besi sebagai alas jembatan serta kawat baja, disediakan oleh Toni. 

Pipa besi dan pelat baja merupakan sumbangan dari Tenaris, sebuah perusahaan di Argentina. Sedangkan kawat baja diperoleh dari pemberian perusahaan Cable Car di Swiss. Kedua perusahaan itu memberikan produknya secara cuma-cuma kepada Toni, termasuk membiayai pengirimannya. 

Selain itu, Toni juga harus memastikan pembangunan jembatan dari sisi teknis. Sungai yang akan dilalui jembatan tidak boleh terlalu lebar, juga tidak boleh terlalu pendek jarak antara kedua sisinya. Kestabilan arus sungai pun harus diperhatikan. Sungai yang terlalu sering mengalami banjir tentu akan mengganggu pengerjaan. Faktor lainnya adalah kestabilan permukaan di kedua sisi sungai yang akan dipasang tiang penyangga jembatan. 

Keterikatan sosial antara Toni dan masyarakat yang dibantunya menjadi satu unsur terpenting selama proses pembangunan jembatan. Oleh sebab itu, keinginan yang kuat dari masyarakat untuk bekerja, menciptakan perubahan, menjadi satu hal yang selalu ditekankan Toni sejak awal. 

Baginya, proses pembuatan jembatan seharusnya tidak sekadar membangun infrastruktur tetapi juga membangun karakter masyarakatnya. Proses tersebut akan percuma jika tidak berangkat dari keinginan masyarakat. Toni selalu memegang prinsip bahwa perubahan di suatu daerah hanya bisa tercipta jika diusahakan oleh setiap individu yang tinggal di dalamnya.

Menurut dia, perubahan dalam satu daerah hanya bisa tercipta jika masyarakat sendiri yang mengupayakan perubahan itu. Dia hanya menjadi pemantik agar masyarakat menyadari bahwa setiap perubahan membutuhkan kerja keras dan pengorbanan.

"Ya dapat dikatakan saya telah menemukan tujuan hidup. Saya memahami keberadaan saya di sini dan saya menerimanya. Walau begitu, saat itu, saya tidak tahu bagaimana mencapainya, apakah saya sanggup untuk hidup seperti ini. Namun, saya paham bahwa saya ada untuk menjadi bridge-builder. Itulah yang akan terus saya lakukan..." ungkapnya.

Meniti Jalan Kebebasan

Kompas.com/Kristian Erdianto

Rasa cintanya yang besar terhadap kemanusiaan menjadi faktor utama Toni memilih jalan hidup sebagai bridge builder. Cinta membuatnya bertahan dari segala rintangan yang menghadang. Menurut Toni, semua hal yang dia lakukan selama ini akan sia-sia jika tidak didasari rasa cinta.

"Kita dapat melakukan segalanya, tetapi jika dilakukan tanpa cinta, hal itu akan menjadi sia-sia," tuturnya.

"Kita dapat melakukan segalanya, tetapi jika dilakukan tanpa cinta hal itu akan menjadi sia-sia."
Toni Ruttimann

Toni memilih jalan yang berbeda dalam menjalani kehidupan. Dia mengabdikan dirinya untuk membantu orang lain tanpa pamrih. Toni tidak pernah merasa kekurangan kendati dia tidak pernah mengambil keuntungan sedikit pun dari proyek pembangunan jembatan. 

Bahkan, ketika Toni mengalami lumpuh, sebuah klinik di Thailand bersedia merawatnya tanpa meminta biaya pengobatan sepeser pun. Bantuan selalu datang ketika Toni menghadapi masa-masa sulit. 

"Selama ini, saya selalu memiliki apa yang saya butuhkan. Lihat saya sekarang? Saya baik-baik saja. Bahkan ketika saya sakit, ketika saya lumpuh, mereka memberikan saya tempat untuk tinggal di klinik. Selalu ada orang yang muncul untuk menolong saya. Tanpa asuransi, tanpa uang, dan orang tahu mungkin saya tidak mungkin lagi bisa berjalan. Bahkan dalam situasi tersulit pun, bantuan selalu ada," kata Toni sambil tersenyum. 

Kompas.com/Kristian Erdianto
Anak-anak warga desa Pagar Alam menyeberang di atas jembatan kayu yang kondisinya sudah tidak layak.

Jalan hidup yang dia pilih bukan berarti tanpa hambatan dan tantangan. Seiring berjalannya waktu, Toni belajar mengatasi semua kesulitan yang harus dihadapi. Kehabisan uang sudah sering dia alami. Namun, dari keadaan itu, justru dia belajar bagaimana bertahan hidup dengan sedikit uang. 

Hidup dalam kesederhanaan telah menjadi bagian dari gaya hidupnya selama 29 tahun belakangan, begitu juga dalam setiap proyek sosial yang dia kerjakan. Sebisa mungkin Toni tidak menggantungkan keberhasilan pembangunan jembatan dari beberapa dana yang bisa dikumpulkan oleh masyarakat. 

Toni lebih senang jika bahan material pembuat jembatan dikumpulkan sendiri oleh masyarakat, sedikit demi sedikit, dari lingkungan sekitar desa. Toni tidak ingin dirinya dan masyarakat terlalu menggantungkan hidup kepada uang. 

Toni mengatakan, setiap proyek pembangunan jembatan yang dia jalankan tidak perlu membutuhkan banyak dana. Dia pun tidak pernah mengadakan penggalangan dana untuk membiayai semua proyek sosialnya. Toni hanya mengandalkan sumbangan dari orang-orang yang mengetahui apa yang dia kerjakan. Bahkan, untuk biaya operasional sehari-hari, Toni mendapatkannya dari sejumlah donatur. 

Pernah suatu ketika, teman-teman dan keluarga Toni di Swiss mengumpulkan uang untuk membantu Toni menyelesaikan proyek sosialnya, sebab mereka tidak bisa memberikan bantuan berupa bahan material jembatan.

Setelah bertahun-tahun mengerjakan proyek sosialnya, seorang konglomerat di Texas, Amerika Serikat, bernama Maribeth, menjadi donatur tetap Toni. Dana yang dikirimkan oleh Maribeth digunakan untuk biaya operasional sehari-hari Toni dan timnya.  

"Jika banyak orang berpikir kami membutuhkan banyak dana, itu salah. Kami tidak membutuhkan banyak uang untuk membangun jembatan. Jika kami membutuhkan bensin untuk operasional, uang itu saya dapatkan dari teman dan keluarga di Swiss. Banyak orang di Swiss yang ingin berkontribusi terhadap apa yang saya lakukan. Mereka memberikan uang karena tidak bisa memberikan pipa atau kawat baja untuk membangun jembatan," ungkap Toni. 

"Saya ingin gaya hidup dan cara bekerja kami tidak membutuhkan banyak uang. Ketika kami mengalami krisis keuangan, kami tidak perlu untuk berhenti bekerja. Saya rasa pekerjaan kami terlalu penting dan berguna. Oleh karena itu, kami tidak boleh bergantung dengan siapa pun. Kami mencoba untuk selalu bebas, maka kami bisa melakukan apa pun yang kami inginkan," tambahnya.

Menjaga Nilai dan Tradisi
di Tengah Modernitas

Kompas.com/Kristian Erdianto

Menurut sosiolog Imam Prasodjo, proses pembangunan yang diterapkan oleh Toni merupakan konsep pembangunan yang ideal bahwa pembangunan fisik tidak menjadi satu-satunya tujuan. Konsep pembangunan yang baik, kata Imam, tidak menempatkan masyarakat hanya sebagai obyek, tetapi juga harus menjadi subyek pembangunan. Artinya, masyarakat perlu dilibatkan dalam setiap proses pembangunan. Dengan demikian, proses pembangunan berbasis pada pembangunan masyarakat. 

Imam mengatakan, di dalam setiap komunitas masyarakat terdapat modal sosial yang bisa dimanfaatkan dan harus terus dijaga eksistensinya. Ciri dari modal sosial adalah semangat kerja sama atau gotong royong, interaksi sosial atas dasar rasa percaya, dan kesukarelaan. Namun sayangnya, modal sosial itu sering luput dari perhatian pemerintah karena orientasi keberhasilan pembangunan sering kali hanya diukur dari keberhasilan pembangunan fisik.

"Menurut saya, pembangunan fisik itu memang penting, tetapi prosesnya jauh lebih penting. Proses bergotong royong itulah yang membuat interaksi sosial terjadi, rasa saling memiliki muncul. Hal ini adalah salah satu bentuk revolusi mental. Masyarakat kita ditumbuhkan lagi sifat kegotongroyongannya, membangun kekuatan hubungan sosial," ujar Imam. 

Kompas.com/Kristian Erdianto
Proses pemasangan lantai jembatan

Imam menuturkan, yang dibutuhkan untuk menjaga modal sosial tersebut adalah pembangunan solidaritas barisan fungsional. Setiap individu dalam sebuah kelompok masyarakat akan memiliki rasa keterikatan yang kuat apabila proses pembangunan menggunakan pendekatan integrated participatory community development. Semangat kebersamaan dan rasa saling memiliki, kata Imam, akan muncul ketika ada interaksi positif di tengah masyarakat. 

Dari sisi ilmu sosiologi, solidaritas barisan fungsional memiliki peran yang sangat penting bagi masyarakat dalam mewujudkan cita-cita bersama. Menurut Imam, tidak jarang Toni enggan untuk membantu pembangunan jembatan di suatu daerah karena masyarakatnya sulit untuk diajak bekerja secara gotong royong. Masyarakat tersebut sudah telanjur dimanjakan dengan proyek-proyek pembangunan pemerintah yang tidak melibatkan masyarakat dalam prosesnya.

"Masyarakat tidak boleh dimanjakan. Masyarakat harus ditumbuhkan rasa percaya dirinya. Masyarakat harus terlibat supaya ada rasa kebanggaan. Kedua, untuk menjaga modal sosial, karena kalau orang tidak bisa bekerja sama, mereka tidak akan mampu untuk merealisasikan cita-cita bersama, contoh kecilnya membuat jembatan," kata Imam.

Kompas.com/Kristian Erdianto
Sebagian besar masyarakat desa Pagar Alam dan beberapa desa sekitar bermata pencaharian sebagai petani. Mereka hidup dari hasil pertanian dan perkebunan, seperti padi, kopi, dan karet. Setiap hari mereka menggunakan jembatan untuk pergi ke sawah yang terletak di seberang desa. Untuk mengangkut hasil bumi, mereka menggunakan sepeda motor dengan melewati jalur yang sama.

Hal senada juga diungkapkan oleh Toni. Menurut dia, semangat gotong royong sebagai modal dasar pembangunan dimiliki oleh banyak kelompok masyarakat di berbagai negara. Dari banyak desa yang sudah dia datangi, sebagian besar masyarakatnya memiliki nilai gotong royong. Jika di Indonesia mengenal istilah gotong royong, maka di Ekuador ada tradisi mingga. 

Namun, Toni merasa tradisi gotong royong semakin hilang seiring dengan kehidupan masyarakat yang semakin modern. Modernitas, kata Toni, telah melunturkan rasa solidaritas untuk bekerja sama. Masyarakat mulai sibuk dengan urusan pribadi masing-masing tanpa sedikitpun memperhatikan kebutuhan orang lain di sekitarnya. 

Tradisi gotong royong justru masih dijaga oleh masyarakat yang tinggal di perdesaan. Umumnya mereka lebih mudah untuk mengerjakan sesuatu secara bersama-sama, entah itu membangun rumah penduduk atau fasilitas umum lainnya.

Kompas.com/Kristian Erdianto
Salah satu jembatan yang dibangun warga desa dengan bantuan Suntana dengan Toni Ruttimann.

"Semakin dekat dengan daerah perkotaan, ketika kehidupan menjadi lebih modern, gotong royong perlahan mulai luntur. Orang-orang mengatakan sibuk dengan kegiatan masing-masing. Namun, di perdesaan, terutama di Jawa Timur, orang-orangnya masih memegang tradisi gotong royong, dan mereka adalah pekerja keras. Begitu juga di Jawa Tengah, di sekitar Purworejo juga demikian," tutur Toni.

Meskipun demikian, Toni optimistis, tradisi gotong royong akan terus terjaga jika masyarakat ikut dilibatkan dalam proses pembangunan. Hingga saat ini, Toni masih sering menerima permintaan bantuan dari masyarakat di daerah terpencil. Mereka berkomitmen untuk bekerja secara swadaya dan bersama, asalkan diajarkan membuat jembatan oleh Toni. 

Dokumentasi Pribadi Toni Ruttiman
Dokumentasi Pribadi Toni Ruttiman
Jembatan di Desa Bangio, Kecamatan.Pinogo, Kabupaten Bonebolango, Provinsi Gorontalo

Toni percaya, tradisi gotong royong akan tetap ada, meski modernitas menjadi satu hal yang tidak bisa dielakkan.

Sebelum
Sesudah
Dokumentasi Pribadi Toni Ruttiman
Dokumentasi Pribadi Toni Ruttiman
Jembatan di Desa Bangio, Kecamatan.Pinogo, Kabupaten Bonebolango, Provinsi Gorontalo

"Ya, saya masih melihat banyak orang melakukan pekerjaan yang sangat luar biasa untuk desa mereka. Saya masih dapat melihatnya, tradisi dan nilai-nilai (gotong royong) itu di masyarakat," ungkap Toni.

"Bahkan di situasi tersulit pun, bantuan selalu ada."
Toni Ruttimann
Kompas.com/Kristian Erdianto
Dokumentasi Pribadi Toni Ruttiman
Suntana dan Toni Ruttimann bersama warga desa saat membangun jembatan di Desa Bangio, Kecamatan Pinogo, Kabupaten Bonebolango, Provinsi Gorontalo.
Dokumentasi Pribadi Toni Ruttiman
Toni Ruttimann bersama masyarakat dan tokoh di lokasi jembatan desa Bungin Kecamatan Makale Utara, Kabupaten Tana Toraja, Provinsi Sulawesi Selatan.

Toni Ruttimann

Lahir:

Pontresina, dekat St Moritz, Swiss, 21 Agustus 1968

Karya:

bersama komunitas lokal di Ekuador, Nikaragua, El Salvador, Meksiko, Kolombia, Argentina, Kosta Rika, Kamboja, Vietnam, Laos, Myanmar, dan Indonesia membangun jembatan gantung sejak tahun 1987 sampai 2017. Tercatat hingga 27 September 2017, sudah 742 jembatan dibangun dan berdampak pada 2.044.600 warga desa yang semula terisolasi.

Producer
Amir Sodikin
Writer
Kristian Erdianto
Photographer
Kristian Erdianto
Videographer
Andreas Lukas Altobeli
Kristian Erdianto
Video Editor
Lulu Cinantya Mahendra
Copywriter
Georgious Jovinto
Graphic Designer
Cassandra Etania
Developer
Nurhaman

Copyright 2017. Kompas.com