Lepas dari hiruk-pikuk Barat yang energetik, tim Merapah Trans-Jawa 2026 mulai membelah jalur menuju hulu kebudayaan: Yogyakarta.
Ada yang berbeda pada Lebaran tahun ini. Jalan Tol Solo-Yogyakarta-NYIA Kulonprogo mulai menampakkan kontribusi fungsionalnya, memperpendek jarak tanpa mengikis makna.
Di Gerbang Tol Purwomartani, pandangan kami tertambat pada guratan ornamen Aksara Jawa, Hanacaraka, yang berdiri anggun berselimut cahaya fajar. Sebuah penanda bahwa kami telah memasuki ranah di mana waktu seolah menjeda dalam kesantunan.
Jalan bebas hambatan ini dirancang untuk tidak sekadar menjadi infrastruktur modern.
Direktur Keuangan PT Jasamarga Jogja Solo, Yhanni Haryanto, menegaskan bahwa kemajuan teknologi harus tetap bersanding dengan lokalitas yang berjiwa.
Yhanni Haryanto:
“Kami ingin budaya Jawa tetap melekat. Tulisan Hanacaraka ini adalah ikon bahwa meskipun kita bergerak cepat dengan teknologi tol, kita tidak pernah melupakan akar budaya kita.”
Keluar dari jalan tol nan rigid, tim Merapah menjajal kegagahan Honda StepWGN e:HEV menyusuri eksotisme JJLS Gunungkidul.
Jalanan yang berkelok namun mulus ini seolah menjadi panggung bagi teknologi hybrid untuk menari di atas bekas dasar laut purba.
Di sinilah kecerdasan mesin 2.0L DOHC i-VTEC bekerja dalam hening yang puitis. Memberikan torsi 315 Nm yang responsif, ia dengan mudah menaklukkan tanjakan ekstrem di bentang perbukitan karst tanpa mengusik kedamaian alam sekitarnya.
Business Innovation and Marketing & Sales Director Honda Prospect Motor, Yusak Billy, menyebutkan bahwa kenyamanan MPV 7-penumpang ini memang dirancang untuk sebuah ritus emosional bernama mudik.
Yusak Billy:
"Kabin yang praktis dan fitur keselamatan Honda SENSING memastikan keluarga bisa menikmati kemegahan panoramik JJLS tanpa rasa khawatir."
Di balik kemudi ini, kami menyadari bahwa pulang adalah perpaduan antara kecanggihan yang melindungi dan keindahan yang memulihkan. Di antara bukit-bukit gamping yang membisu, rindu itu perlahan menemukan muaranya.