Petualangan

KeHutanSagu

Sungai Tohor

Selama ratusan tahun, para warga Sungai Tohor, Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau, memanen sagu dari hutan gambut di wilayah mereka dan mengolahnya menjadi bahan pangan. Tradisi itu berlangsung hingga kini.

Kami mengundangmu menggulir dan bertualang menikmati keindahan kawasan hutan gambut terbaik di muka Bumi itu sambil ikut panen sagu.

Sambil bertualang, kamu punya tugas menguak tujuh cerita tersembunyi di dalam amplop dan menemukan gambaran besar hidup warga serta menggagas ide memperbaikinya.

Kamu akan terbang dari Jakarta ke Batam selama 1 jam 40 menit.
... lalu lanjut berlayar dengan kapal feri dari Pelabuhan Sekupang ke Sungai Tohor selama 3 jam.
Setelah lanjut 20 menit naik ojek, kamu akan sampai di rumah warga.

trip 1

Untuk trip pertama, kita akan masuk hutan, ikut warga memanen sagu.

Siap kan panen sagu? Kita mulai dengan tebang pohonnya dulu.

Habis digergaji, batang sagu bakal dipotong jadi beberapa bagian kecil yang disebut tual.

Satu batang sagu dipotong jadi sekitar 12 tual.

Habis dipotong, kita angkut tual itu satu per satu ke kilang.

Kenapa orang sungai tohor menanam sagu

Tahun 2015, ratusan hektar lahan gambut Meranti, termasuk yang berada di Sungai Tohor, terbakar hebat. Kabut asap bahkan menyebar hingga Pekanbaru, Malaysia, dan Singapura. Pemicunya adalah pengeringan lahan gambut untuk perkebunan.

Sejak saat itu, warga bersama Badan Restorasi Gambut (BRG) berusaha memperbaiki wilayah gambut yang rusak. Mereka ingin gambut basah kembali, menjadi rumah bagi beragam satwa, dan menjadi stok karbon dunia sehingga bisa menahan laju perubahan iklim.

Masalahnya, jika tidak ada perkebunan komersial, bagaimana warga akan bertahan hidup? Kemudian, tercetuslah gagasan untuk hidup dari sagu. Tanaman sagu tidak merusak lingkungan karena bisa hidup di kawasan gambut yang basah. Dengan begitu, kepentingan ekonomi dan lingkungan bisa berjalan beriringan.

Batang didorong dulu keluar hutan pakai rel kayu ini.

Biar gampang mengangkutnya, tual-tual sagu disusun bak rantai, lalu diangkut lewat sungai.

Warga akan mengangkut sekaligus berlayar di atas rantai tual sagu ini ke kilang.

Pas berlayar, pemandangan kayak gini bakal sering kamu dapatkan.

Sungai dan Restorasi Gambut

Apa yang terlintas di pikiranmu saat melihat anak-anak mandi di sungai gambut? Mungkin kamu menilai itu potret keterbelakangan, sama seperti melihat anak-anak pinggiran kota yang mandi di sungai kotor. Namun sejatinya, yang kamu saksikan adalah potret keberhasilan perbaikan lahan gambut.

Saat kebakaran lahan tahun 2015, sungai tempat anak-anak mandi itu kering. Usai pemasangan sekat kanal, air mulai menggenang dan kini pun mengaliri area sungai. Berwarna seperti es kopi, kamu mungkin mengira air gambut itu kotor. Namun, kenyataan berkata bahwa air gambut masih layak dipakai untuk mandi, mencuci, hingga mengolah sagu. Bahkan, warga lokal mengolah air gambut menjadi air minum.

Fakta kecil itu membuktikan bahwa perbaikan dan pelestarian lahan gambut bisa membantu menghidupi warga lokal. Tak terbayang jika warga lokal harus membeli air bersih untuk mandi dan mencuci plus air mineral untuk minum. Warga kini juga menikmati manfaat lebih daripada sekadar bisa menggunakan air gambut, yaitu bebas dari kebakaran hutan. Setelah 2015, Sungai Tohor tak pernah lagi mengalami kebakaran.

Tim petani lain akan menyambut rangkaian tual sagu yang datang, lalu melepas tali ikatannya.

Satu per satu batang sagu diangkut ke luar sungai.

Nah, kakek ini dan teman-temannya akan mulai mengolah sagu menjadi tepung.

Tual sagu akan dibilah menjadi bagian lebih kecil.

Lalu satu per satu digiling.

Ini hasilnya pas sudah keluar dari mesin penggiling.

Selama kurang lebih dua minggu, hasil gilingan diendapkan di kolam ini.

Hasil endapan dikeringkan, dibuat menjadi bola sagu besar yang kemudian bisa dijadikan tepung.

Mimpi Sejahtera dari Sagu

Warga Sungai Tohor punya mimpi besar: sejahtera dengan monetisasi sagu. Kilang sagu adalah salah satu wujud usahanya. Ada 18 kilang di seantero Sungai Tohor. Satu kilang menyerap 13-16 tenaga kerja, dari yang berperan menebang hingga menggiling.

Tiap 12 hari, ada 500-800 potongan batang sagu atau tual yang diolah di kilang. Hasil olahan hingga saat ini masih banyak yang dijual basah ke tengkulak sagu untuk dijual ke pabrik tepung Tanah Air dan diekspor ke Malaysia.

Warga merasa penghasilan dari sagu masih kurang maksimal. Begini sedikit hitung-hitungannya.

Per 12 hari, warga menghasilkan 25-30 ton sagu basah. Untuk menghasilkannya, ada pengeluaran untuk tenaga kerja Rp12.000 per orang, per tual, dan per hari. Plus, biaya operasional kilang, misalnya listrik.

Harga sagu basah kotor (masih coklat dan belum berbentuk tepung) biasanya Rp2.000 per kilogram. Saat pandemi Covid-19, harganya jatuh hingga ke Rp1.600 per kilogram. Keuntungan yang didapat dari sagu masih belum bisa menyejahterakan warga secara ekonomi.

Warga sudah menangkap peluang untuk mendapat penghasilan lebih.

Jika sagu basah diolah lagi menjadi lebih bersih, harganya bisa Rp 5.000 per kilogram. Jika sagu kemudian diolah lagi menjadi tepung, harganya bisa Rp 9.000 per kilogram. Kalau jadi produk siap konsumsi, pasti harganya jauh lebih mahal.

Masalahnya, untuk mengolah sampai menjadi tepung saja, belum banyak warga yang bisa. Salah satu faktornya adalah keterbatasan alat. Jika ada, produk tepung yang dihasilkan masih kalah dengan produksi pabrik tepung besar.

Jadi, meski restorasi lahan gambut menghasilkan manfaat lingkungan yang besar, upaya memberi manfaat ekonomi restorasi dengan sagu masih penuh tantangan.

Kamu telah menyelesaikan trip pertamamu dan berhasil mengungkap tiga cerita tersembunyi.

Sekarang kamu tahu bahwa restorasi gambut menghasilkan manfaat besar untuk lingkungan. Sungai Tohor jadi tak kebakaran hutan. Kamu juga tahu bahwa pertanian sagu di Sungai Tohor adalah kerja komunitas. Selain memelihara lahan gambut bersama, pertanian sagu membuat warga bisa tetap bertahan hidup di desa dan menghasilkan uang. Kamu tahu satu masalah, monetisasi sagu masih menghadapi tantangan besar, antara lain keterbatasan alat dan kapasitas warga.

trip 2

sekarang kita akan ketemu perempuan-perempuan hebat dari sungai tohor

Sagu hasil gilingan bisa diolah jadi mi. Nah, Ibu ini akan memimpin tim Ibu-ibu untuk membuatnya.

Bongkahan sagu dimasukkan ke air mendidih.

Habis itu, dipotong dan dipipihkan.

Jadi kayak gini deh.

Habis itu, pipihan tadi lalu dikeringkan.

Nah sekarang anak-anak bekerja untuk mengubah sagu jadi mi.

Akhirnya jadi deh.

Dari Desa Meraba Selera Kota

Kenapa warga mengolah sagu jadi mi? Alasan utamanya adalah karena mereka merasa bentuk mi paling gampang dikonsumsi orang kota. Mereka pun kerap membuat mi goreng dari bahan mi sagu.

Umumnya, mi dibuat dengan bahan baku tepung. Sejumlah dosen dari universitas datang ke Sungai Tohor untuk memberi bimbingan soal membuat mi dari tepung. Meski demikian, warga merasa kurang praktis jika harus menepungkan sagu baru mengolahnya jadi mi. Mereka akhirnya membuat mi dari bentuk sagu basah. Lebih cepat dan lebih hemat juga, kata mereka.

Meski produksinya masih sedikit, mi sagu produksi warga Sungai Tohor sempat dikirim ke Jakarta dan wilayah Riau lainnya. Harganya belasan ribu rupiah per 500 gram. Sayang, permintaan dan kemampuan warga menyuplai masih terbatas.

Ibu ini mengolah sagu jadi snack atau camilan yang gurih.

Tepung sagu diayak.

Lalu dimasukkan di ayunan unik ini.

Lalu diayak lagi agar jadi bola.

Habis itu disangrai.

Jadi deh snack seperti ini!

Harapan dari Kremesan

Sagu lemak adalah cara lain warga mendapat harga jual lebih tinggi dari sagu. Namun, penghasilan dari hasil olahan ini pun tak seberapa.

Sehari, warga bisa mengolah 25 kilogram sagu basah. Modalnya Rp2.000 per kilogram sagu basah dan jika ditambah upah cuci jadi Rp3.000 per kilogram. Jumlah sagu lemak yang dihasilkan sekitar 65 bungkus dan harga jual per bungkusnya adalah Rp1.600. Jadi, untungnya hanya sekitar Rp29.000 untuk pekerjaan sehari.

Sebagian perempuan mengolah untuk tambahan uang jajan anak. Salah satu warga mengaku, uang jajan bisa sampai Rp20.000 per hari per anak. Meski sagu lemak bisa menambal kebutuhan, uang yag dihasilkan darinya tak cukup.

Kamu menyelesaikan trip kedua dan mengungkap total lima cerita tersembunyi.

Kamu tahu bahwa warga Sungai Tohor adalah orang-orang kreatif. Mereka membaca selera orang kota dan berusaha memenuhinya dengan sumber daya lokal. Mereka bisa mengembangkan cara-cara praktis pengolahan sagu. Semangat mereka membuahkan hasil, tetapi belum cukup untuk memenuhi kebutuhan dan harapan berdaya dari sagu.

trip 3

kita berkunjung ke tempat impian warga sungai tohor

Kita berkunjung ke tempat impian warga Sungai Tohor.

Ada mesin -mesin pengolah sagu di sini.

Kilang Sagu, Peluang Baru?

Pada 16 Februari 2021, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti meresmikan Gedung Sentra Industri Sagu Sungai Tohor. Warga menyambut bantuan pemerintah ini, tapi tetap punya sejumlah pertanyaan.
Sejumlah pertanyaan itu antara lain, bagaimana akan memproduksi sagu berjumlah besar? Apakah produk yang dihasilkan sesuai selera pasar? Bagaimana memastikan produk bisa masuk pasar dan berkompetisi? Apakah fasilitas di sentra sagu sesuai dengan yang dibutuhkan warga?
Warga misalnya mempertanyakan tak adanya fasilitas pengolahan mi sagu dengan bantuan arang. Menurut warga, sagu hanya bisa mengembang dan jadi bahan mi yang baik jika dipanaskan dengan arang. Warga Sungai Tohor masih perlu bantuan gagasan dan inisiatif sehingga sentra sagu benar-benar bisa membantu memberdayakan ekonomi.

Sekarang kita bakal ketemu pemuda revolusioner dari Sungai Tohor.

Membuat Perubahan Kecil

Warga bisa berdaya secara ekonomi dengan sagu. Salah satu kuncinya adalah memakan sagu produksi sendiri sebagai makanan pokok. Dengan begitu, warga bisa menghemat uang yang sekarang digunakan untuk membeli beras. Harga beras di Sungai Tohor sekitar Rp12.000 per kilogram.

Namun, upaya mendorong konsumsi sagu di desa sendiri ini juga menemui hambatan. Banyak warga yang menilai bahwa sagu adalah pangan kurang bergizi dan merasa statusnya lebih rendah jika makan sagu.

Kamu menyelesaikan trip ketiga dan mengungkap total tujuh cerita.

Kamu kini tahu bahwa warga masih butuh bantuan pemerintah sehingga upaya monetisasi sagu bisa berhasil. Bantuanmu mungkin juga diperlukan. Jika kamu makan sagu, boleh jadi sagu Sungai Tohor punya pasar tambahan. Di sisi lain, warga juga perlu mendorong konsumsi sagu di desanya sendiri untuk mendorong upaya berdaya lewat sagu.

Keren !

Kamu telah menyelesaikan trip terbaik dalam hidupmu. Jadi, menurutmu, bagaimana agar warga Sungai Tohor bisa lebih sejahtera dengan sagu? Bagikan idemu di media sosial, yuk!