Punan Batu, Pengetahuan yang Menumbuhkan Harapan

Di dekat Liang Benau
dan hilir Sungai Sajau

Hidup seorang anak muda,

Layis namanya.

Jika anak kota
mengambil makanan langsung dari meja,
Layis berbeda cerita.

Bersama Samsul, ayahnya,
tiap hari ia menjelajah hutan belantara.

Berburu ...

Meramu...

Suatu hari,
kepada Layis, Samsul unjuk gigi
soal caranya beraksi.

Mulutnya meniup peluru dalam sumpit
panah beracun agar mangsa tak berkelit.

Blup. Whus!

Anak panah itu menuju mangsa.
Saking cepatnya, tak kasatmata.

Satu babi hutan jatuh tak berdaya.
Samsul dan Layis tersenyum ceria,
siap berpesta pora.

Sore harinya,
mereka mengumpulkan keluarga.

Daging di atas piring,
ditambah ubi kariting.
Menetes semua ludah,
bersama lapar yang membuncah.

Dalam sekejap….

Hap!

Lidah akhirnya mengecap
babi nikmat meski tanpa kecap.

Kletak!

Iga babi retak.

Slurppp. Nyam!

Bersama lapar yang terobati,
mengiring burung bernyanyi.


KUK.. KUK.. KUK..


Sekeluarga
Bergembira.

Begitulah hidup suku Punan Batu dahulu.

.
.
.

2018


Datanglah para ilmuwan
membawa rasa penasaran.


Melompatlah mereka dari perahunya
setelah melewati sungai berbuaya.

Pradiptajati Kusuma salah satunya.
Beliau mempelajari DNA.
Rantai dalam tubuh kita
yang menyimpan rekaman asal-usul manusia.

Ada pula Steve Lansing dari Amerika.
Beliau yang meneliti budaya,
tentang apa yang manusia cipta
dan kebiasaannya.

Punan Batu menyambut hangat
semua peneliti yang terlibat.

Bercakap-cakap
sampai akrab.

Berbulan bercengkerama,
hingga saling percaya.

Hingga tiba saat,
ilmuwan menyampaikan niat.

“Aku ingin meneliti kalian semua”

“Untuk apa?”

”Untuk menambah pengetahuan
tentang asal-usul manusia dan
kesehatan”

Supaya terwakilkan,
suku-suku yang kerap terabaikan.

Ilmuwan bertanya-tanya

“Apa kiranya bisa jadi balasan?”

Yang tak terduga terucapkan
dalam doa yang Punan Batu panjatkan

“Bantulah kami menjaga hutan.”

“HAH?!”

Kehidupan Punan Batu sekarang
diungkapkan.

Diceritakanlah kepada para ilmuwan itu
kisah-kisah yang pilu.

Tentang babi hutan,
buruan kesukaan yang sudah jarang kelihatan.

Tentang kematian,
bayi sungsang dan ibu melahirkan.

Tentang layanan kesehatan
yang belum bisa jadi langganan

Tentang hutan
yang terancam jadi kenangan.

Siapa yang diberi
harus memikirkan balas budi.

Akhirnya, ilmuwan mengucap janji.
Tak di atas kertas, tapi tetap sepenuh hati.

“Baiklah, aku akan berusaha membantu kalian”

Di dekat Liang Benau
dan hilir Sungai Sajau

Jarum suntik menembus pembuluh darah,
mengambil cairan merah.

Berpindah cairan ke tabung sementara
hingga saatnya penelitian DNA.

Bersama perburuan tak kenal lelah,
ilmuwan melacak wilayah jelajah.

Mata memandang lebih dalam,
telinganya mendengar lebih tajam.

Mengobservasi

Ternyata Punan Batu unik dan berbeda

Genetika Punan Batu : Tidak Punya Jejak Austronesia
Bahasa Punan Batu : Beda Bahasanya
Simbol Punan Batu : Unik Simbolnya
Merdu Aliran Musiknya
Letak dan luas daerah Punan Batu : Luas Wilayah Jejaknya

DIUNGKAPKAN
PUNAN BATU ADALAH PEMBURU TERAKHIR DI KALIMANTAN.

Ilmuwan teringat
bahwa ada kata sepakat.

Setelah penuh berusaha,
bertemulah mereka
dengan yang berkepedulian sama.

Mereka meyakinkan pemimpin negara
untuk melestarikan hutan belantara.

Di dekat Liang Benau,
dan hilir Sungai Sajau.

Babi-babi
kembali.

Daging di atas piring
bersama ubi kariting.



Layis belajar hukum,
meski tak ikut kurikulum.


ITU HARAPANNYA.

2 Juni 2023


Punan Batu diterima
sebagai suku berbeda.

Perjuangan menjaga hutan
lebih dekat dengan kenyataan.

Di dekat Liang Benau,
dan hilir Sungai Sajau.

Ada satu pelajaran:

Ilmu pengetahuan
bisa menumbuhkan harapan.

Ilmu pengetahuan

Bukan cuma soal penemuan,
melainkan juga tentang kebaikan.